Ayep Zaki Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, DLH Targetkan Sampah ke TPA Cikundul di Bawah 100 Ton
SUKABUMI-Beritaekspos.com - Wali Kota Sukabumi H. Ayep Zaki mendorong pengelolaan sampah dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat sejak dari tingkat rumah tangga.
Pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Ayep Zaki menegaskan, persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan.
Masyarakat harus menjadi bagian utama dalam mengurangi dan mengelola sampah sebelum dibawa ke TPA.
“Persoalan lingkungan dan sampah ini harus dikerjakan bersama. Pemerintah sudah menyiapkan program dan fasilitasnya, tetapi tanpa kesadaran serta partisipasi masyarakat, persoalan sampah tidak akan selesai,” ujar Ayep Zaki, di Kelurahan Cikundul, Jumat (21/8).
Menurutnya, kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari hal sederhana, terutama membiasakan masyarakat memilah sampah organik, anorganik, dan residu.
Ia pun meminta jajaran kewilayahan, mulai dari RT, RW hingga kelurahan, ikut menggerakkan masyarakat agar pengelolaan sampah berbasis lingkungan dapat berjalan secara konsisten.
“Mulai dari rumah tangga, sampah harus dipilah. Yang masih memiliki nilai ekonomi bisa masuk ke bank sampah, sampah organik dikelola, sementara residu baru diangkut. Kalau ini dilakukan bersama, volume sampah yang masuk ke TPA pasti bisa ditekan,” katanya.
Dorongan tersebut sejalan dengan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat yang digelar di Kota Sukabumi. Bimtek tersebut menitikberatkan pada edukasi dan praktik pemilahan sampah langsung dari masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, Yudi Sutriana, mengatakan sampah di Kota Sukabumi saat ini mencapai sekitar 190 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 132 ton di antaranya masih masuk ke TPA Cikundul.
Yudi menjelaskan, sekitar 72 persen komposisi sampah merupakan sampah organik, seperti sisa makanan dan daun-daunan. Karena itu, pengelolaan sampah organik dari sumber menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi beban TPA.
“Nah, fokus kita adalah sosialisasi tentang pemilahan sampah kepada masyarakat. Sampah dibagi menjadi tiga, yaitu anorganik, organik, dan residu,” ujar Yudi.
Menurutnya, salah satu praktik yang mulai diterapkan adalah penggunaan biopori sampah untuk mengolah sampah organik. Sebanyak 10 RW di Kelurahan Cikundul akan mendapatkan biopori sampah yang nantinya ditempatkan di lingkungan masing-masing.
“Sebagian besar komponen sampah kita hampir 72 persen adalah sampah organik. Sisa makanan, daun-daunan dan sebagainya. Ini yang menjadi fokus kita karena kalau tidak dipilah mulai dari sekarang, volume sampah yang masuk ke TPA akan semakin bertambah,” jelasnya.
Yudi menuturkan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi. Sampah anorganik yang masih bernilai dapat disetorkan atau dijual melalui bank sampah, sedangkan sampah organik dikelola di tingkat lingkungan.
Sementara sampah yang dibawa ke TPA nantinya diupayakan hanya berupa residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.
“Yang kita hanya mengangkut nanti residunya. Insya Allah itu bisa berkurang signifikan. Target kami mudah-mudahan nanti yang masuk ke TPA di bawah 100 ton,” tegas Yudi.
Target tersebut dinilai penting untuk memperpanjang usia operasional TPA Cikundul. Pasalnya, semakin besar volume sampah yang masuk setiap hari, semakin cepat pula kapasitas TPA mencapai batasnya.
Yudi juga menyinggung kewajiban pemerintah daerah untuk meninggalkan pola open dumping. Pengelolaan TPA ke depan harus diarahkan pada sistem yang lebih baik, termasuk melalui pengurugan dengan metode sanitary landfill.
Karena itu, menurut Yudi, pengurangan sampah dari sumber menjadi kebutuhan mendesak dan tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan armada pengangkutan.
“Tanpa bantuan masyarakat sampah tidak selesai. Angkut jam delapan, jam sembilan sudah penuh lagi. Jadi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?” ungkapnya.
Ia menambahkan, program pengelolaan lingkungan tersebut juga merupakan bagian dari arahan Wali Kota Sukabumi kepada seluruh RT, RW dan lurah agar kebersihan lingkungan menjadi perhatian bersama.
“Program lingkungan itu lingkungan harus bersih. Ini sudah diinstruksikan ke seluruh RT dan RW se-Kota Sukabumi, termasuk para lurah. Alhamdulillah ini membantu kami supaya nanti sampah di kita tertata dan terkelola,” pungkas Yudi.
Ois

