Jawab Kebutuhan Imam dan Pembina Umat, Program Ustaz Garis Depan Tembus Jepang
SUKABUMI-Beritaekspos.com - Kebutuhan tenaga imam dan pembina keagamaan di tengah komunitas Muslim Jepang mendorong lahirnya program pengiriman Ustaz Garis Depan ke Negeri Sakura.
Program dakwah lintas negara ini menjadi langkah kolaboratif untuk menjawab kebutuhan umat Islam di luar negeri, khususnya dalam menghidupkan aktivitas masjid dan memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat Muslim migran.
Pimpinan Ponpes Modern Al-Fath, KH. Fajar Laksana mengatakan, program tersebut merupakan pengembangan dari gerakan Ustaz Garis Depan yang sebelumnya dijalankan di Pulau Buru.
Inisiatif itu mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), hingga kemudian berkembang dengan cakupan pelayanan dakwah yang lebih luas.
"Permintaan pengiriman ustaz datang langsung dari komunitas Muslim di Jepang. Sejumlah wilayah, mulai dari Ibaraki hingga Nagoya, memiliki masjid yang membutuhkan tenaga imam sekaligus pembimbing keagamaan," kata Kiai Fajar, Kamis (5/11/2026).
Keterbatasan sumber daya manusia kata dia, untuk mengelola kegiatan masjid menjadi salah satu alasan utama program tersebut dijalankan.
Dalam pelaksanaannya, pemberangkatan ustaz dijadwalkan secara bergiliran setiap bulan pada rentang tanggal 13 hingga 19.
"Penugasan menggunakan mekanisme nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan periode tiga bulan sekali," ujarnya.
Dari sisi pembiayaan dan kebutuhan selama menjalankan tugas, seluruh fasilitas di Jepang disediakan oleh komunitas Muslim setempat.
Sementara itu, proses pemberangkatan dikoordinasikan secara mandiri melalui kerja sama berbagai pihak yang terlibat dalam program tersebut.
Keterlibatan sejumlah lembaga menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan dakwah berjalan sesuai ketentuan dan memiliki dukungan kelembagaan.
Kemenag berperan memberikan rekomendasi resmi serta izin keberangkatan untuk kepentingan dakwah ke luar negeri.
"Baznas juga ikut mendukung pengembangan program tersebut, terutama dalam memperkuat fasilitasi dakwah hingga ke wilayah yang membutuhkan perhatian khusus," ujarnya.
Sementara itu, Kopertais membantu koordinasi terkait keterlibatan mahasiswa magang agar aktivitas dakwah dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan pengakuan satuan kredit semester (SKS) perkuliahan.
Di sisi lain, Izmi mengambil peran dalam pembinaan intelektual dan mahasiswa agar memiliki kesiapan untuk terjun langsung ke tengah masyarakat.
Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan tenaga dakwah yang tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan sosial dan budaya masyarakat di negara tujuan.
Adapun tugas para ustaz selama berada di Jepang tidak sebatas menjadi imam salat.
Mereka juga bertanggung jawab menghidupkan kegiatan masjid melalui pengajian harian maupun malam, memimpin salat tarawih, menyelenggarakan kegiatan keagamaan pada hari-hari besar Islam, hingga memberikan bimbingan terkait pengurusan jenazah.
"Pembinaan mencakup pemahaman fikih praktis, mulai dari tata cara ibadah, persoalan muamalah, hingga pengelolaan dan pemahaman zakat," kata Fajar.
Kehadiran ustaz diharapkan menjadi tempat masyarakat Muslim memperoleh pendampingan ketika menghadapi persoalan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sasaran utama dakwah ini adalah komunitas Muslim migran yang membutuhkan pendampingan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan beragama di tengah lingkungan masyarakat Jepang.
Namun, peran para ustaz juga terbuka untuk memberikan penjelasan mengenai ajaran Islam kepada masyarakat non-Muslim.
Melalui program tersebut, dakwah Islam diharapkan tidak hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan internal umat, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil 'alamin.
Program Ustaz Garis Depan ke Jepang sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan keagamaan tidak dibatasi oleh wilayah geografis.
Kolaborasi kelembagaan, dukungan komunitas Muslim setempat, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi modal penting dalam memperluas jangkauan dakwah Indonesia hingga ke tingkat internasional.
Ois

