Breaking News

Dinaskertrans: Pengangguran Lulusan SMK Di Sukabumi Capai 21 Persen Per Tahun 2019- 2021






SUKABUMI, beritaekspos.com - 
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Sukabumi tahun 2019-2020 didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuraan (SMK) jauh mengalahkan lulusan tingkat pendidikan lainnya yakni mencapai 21 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh R Elly Widianingsih, Pengantar Kerja Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi kepada beritaekspos.com di ruang kerjanya, Kamis (9/9/2021).


Widianingsih mengatakan, pendirian SMK tampaknya kian menjauh dari tujuannya awalnya yakni agar lulusan SMK diharapkan memiliki kompetensi dan kemampuan vokasi yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha maupun dunia industri (DUDI), baik di level nasional maupun global sehingga dengan begiti lulusan SMK sudah siap kerja.

“Pada kenyataannya, jumlah pengangguran lulusan SMK terus meningkat. Bahkan tingkat pengangguran lulusan SMK selalu berada di posisi teratas dibandingkan lulusan lain. Per Januari 2019 sampai tahun 2020 lalu, tingkat pengangguran keluaran dari SMK mencapai 21 persen yakni tahun 2019 ada 34.285 jiwa. Sedangkan tahun 2020 ada 43.776 jiwa. Angka tersebut naik dari angka tahun sebelumnya,” ungkapnya.


Menurutnya, situasi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 yang mengakibatkan sejumlah perusahan mem-PHK karyawan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan penyebab meningkatnya pengangguran lulusan SMK di Kabupaten Sukabumi.


Pengantar Kerja Ahli Muda Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, R Elly Widianingsih.
“Selain itu, faktor lainnya seperti ketaksesuaian keahlian utama pelamar dengan lowongan yang tersedia, daya saing individu bersangkuatan, keterbatasan jumlah lowongan kerja pada sektor industri,” katanya.

“Yang sangat mengkhawatirkan peningkatan pada 2021 ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penambahan pada tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Widianingsih juga mengungkapkan bahwa pengangguran di kalangan lulusan SMK sudah terjadi jauh-jauh hari sebelumnya. Dan hal inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran yang jauh lebih mendasar, yakni tidak terjadinya link and match antara lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

“Sementara angkatan muda kerja jumlahnya terus naik dari per tahunnya, begitu juga ketersedian untuk menampung para lulusan SMK itu, lapangan pekerjaanya sangat kurang,” tuturnya.

Oleh karena itu, katanya, saat ini pemerintah daerah dan pusat terus mendorong para lulusan SMK untuk dapat melakukan kegiatan kewirausahaan secara mandiri dengan berbagai kegiatan pelatihan dan bimbingan serta pemanfaatan kecanggihan teknologi di era revolusi industri 4.0.

“Jadi yang lulusan sekolah muda harus bisa menciptakan usaha sendiri, berwirausaha, apalagi di masa saat ini perkembangan teknologi begitu pesat, maka dari pada itu kita harus mengikuti era digital,” katanya.

“Pemerintah sudah menekan jumlah angka pengangguran sebagimana memaksimalkan fungsi peran Balai Latihan Kerja (BLK) serta sudah menjadi kewajiban akan mengupayakan menuntaskan pengangguran,” pungkasnya. 

(wan.skj)

|| BACA JUGA BERITA LAINNYA ||