Tekan Beban Cikundul, Bobby Serukan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah
SUKABUMI-Beritaekspos.com - Upaya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul harus dimulai dari rumah. Pemerintah Kota Sukabumi mendorong masyarakat tidak lagi melihat sampah sebatas sesuatu yang harus dibuang, tetapi dipilah dan diolah sejak dari sumbernya.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menegaskan, perubahan pola pengelolaan sampah tidak akan efektif jika seluruh persoalan masih diserahkan ke pemerintah untuk diselesaikan di hilir.
“Yang paling penting itu dari hulunya, dari rumah tangga. Sampah harus dipilah,” kata Bobby usai mengikuti kegiatan World Clean Up Day, Minggu (20/9).
Menurut Bobby, membuang sampah pada tempatnya memang menjadi kewajiban dasar masyarakat. Namun, kepedulian terhadap sampah tidak boleh berhenti pada aktivitas membuang.
Warga juga perlu mengetahui ke mana sampah tersebut dibawa dan bagaimana sampah dapat dikelola agar tidak seluruhnya berakhir di Cikundul.
“Masyarakat perlu memiliki kepedulian untuk mengetahui ke mana sampah tersebut pergi dan bagaimana seharusnya sampah itu dikelola,” ujarnya.
Karena itu, Pemkot Sukabumi tengah menyiapkan penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali TPS 3R yang belum seluruhnya berfungsi optimal.
Dari sekitar 12 hingga 13 TPS 3R yang tersedia, pemerintah menargetkan sedikitnya separuhnya dapat kembali diaktifkan pada 2027 dengan dukungan anggaran yang tersedia.
Bobby menilai penguatan TPS 3R penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengelolaan sampah di hilir.
Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diproses lebih dekat dengan masyarakat sehingga volume yang harus diangkut ke Cikundul bisa ditekan.
“Dengan pengolahan yang dilakukan lebih dekat dengan sumbernya, sampah yang harus diangkut ke Cikundul dapat ditekan,” tandasnya.
Namun, fasilitas saja tidak cukup. Perubahan kebiasaan masyarakat menjadi faktor utama agar sistem tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pemkot pun mendorong keterlibatan kelurahan, RW, RT hingga keluarga. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah satgas pengelolaan sampah di tingkat RT.
Satgas tersebut diharapkan tidak sekadar mengambil sampah dari rumah warga, tetapi juga menjadi penggerak edukasi dan memastikan sampah yang dikumpulkan sudah dipilah.
Dengan begitu, sampah organik dapat langsung diarahkan untuk pengomposan, biopori maupun pengolahan lainnya.
Sementara sampah anorganik dapat dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali atau memiliki nilai ekonomi.
Ketua Restu Bumi Kia Prolita menilai pemilahan dari rumah merupakan pintu masuk untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, sampah yang dikelola dengan benar tidak selalu menjadi beban. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lingkungan.
Sejumlah RW bahkan telah mencoba mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui biopori dan memanfaatkan hasilnya untuk tanaman hidroponik.
“Rantai pengelolaan sampah dapat dibuat berputar di lingkungan sendiri. Apa yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali memberikan manfaat,” kata Kia.
Ia juga menekankan bahwa pemilahan sampah memiliki potensi ekonomi. Sampah anorganik yang terkumpul dengan baik dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai jual.
“Yang tadinya sampah harus dibuang, kita dorong supaya bisa menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan bisa menjadi uang,” ujarnya.
Gerakan memilah sampah dari rumah pada akhirnya bukan sekadar soal menjaga lingkungan tetap bersih.
Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Cikundul sekaligus membangun kesadaran bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Ois

