Breaking News

MRC No One Knows Menyusuri Rakit Bambu, Kasepuhan Gelaralam hingga Pesisir Pelabuhan Ratu


SUKABUMI-Beritaekspos.com - Deretan sepeda motor di atas rakit bambu menjadi salah satu gambaran perjalanan Manja Rider Community (MRC) dalam event MRC No One Knows. 

Selama tiga hari, 18–20 September 2026, sebanyak 21 peserta dari Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi dan Depok menjelajah dari Cibinong menuju Bogor Barat. 

Kemudian memasuki wilayah Sukabumi, mencapai Kasepuhan Gelaralam melalui Gunung Bongkok, dan mengakhiri perjalanan di Bunga Ayu Seaside Resort, Pelabuhan Ratu. 

Nama No One Knows bukan tanpa alasan. Sebagian rute dibocorkan kepada peserta, sementara bagian lainnya sengaja dirahasiakan sebagai kejutan. Rangkaian perjalanan diawali dari Ayam Geprek Caramel dan dilanjutkan ke McDonald’s Cibinong sebagai titik kumpul final. 

Dari 24 orang yang mendaftar, 21 peserta akhirnya berangkat setelah tiga orang berhalangan. Pada Jumat, 18 September 2026 pukul 07.00 WIB, rombongan mulai bergerak menuju Bogor Barat. 

Bocoran etape pertama memuat titik kumpul dan 11 titik perjalanan. Beberapa titik menjadi lokasi makan siang, sedangkan titik terakhir berisi pengingat bagi peserta untuk mengisi penuh bahan bakar. 

Setelah bagian tersebut, arah perjalanan sengaja dirahasiakan hingga memasuki etape menuju Kasepuhan Gelaralam melalui Gunung Bongkok. 

Bagi MRC, tantangan perjalanan bukan perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan bagaimana seluruh peserta menghadapi jarak, perubahan permukaan jalan dan kondisi perjalanan dengan kesiapan serta perhatian terhadap sesama. 

Rute Bogor Barat memberikan pengalaman berbeda dibanding perjalanan antarkota melalui jalan utama. Rombongan melewati penyeberangan sungai menggunakan rakit bambu, jembatan gantung, jalur sempit di antara vegetasi dan ruas berbatu. 

Selepas Leuwiliang, sebelum kawasan Kebun Teh Cianten, peserta berhenti untuk makan siang sekaligus menunaikan salat Jumat, kemudian perjalanan diteruskan menuju Kabandungan. 

Di sana, rombongan menyempatkan diri menikmati durian yang oleh Jihan Ibnu dicatat sebagai Simas, Matahari dan Bawor lokal. 

Perjalanan tersebut sekaligus mempertemukan peserta dengan kehidupan masyarakat di sepanjang rute. Dokumentasi MRC menangkap sapaan peserta kepada anak-anak di tepi jalan kampung. 

Bagi perjalanan komunitas seperti ini, perjumpaan dengan warga menjadi bagian dari pengalaman, selain pemandangan yang ditemui. 

Warung makan, penjual buah, tempat singgah hingga permukiman menjadi bagian dari perjalanan karena tujuan MRC bukan sekadar mencapai lokasi dan mengambil foto, tetapi mengenali tempat beserta kehidupan di dalamnya.  

Menjelang magrib pada Jumat, rombongan tiba di Pelabuhan Ratu. Namun, perjalanan belum selesai karena mereka kembali bergerak menuju Gunung Bongkok dan Kasepuhan Gelaralam. 

Berdasarkan catatan Jihan, rombongan baru mencapai Gelaralam sekitar pukul 01.00 WIB ketika kalender telah berganti menjadi Sabtu, 19 September 2026. 

Sebagian peserta bermalam di tempat Kang Yoyo, sementara sebagian kecil lainnya menginap di Imah Gede. Pagi dan siang harinya digunakan untuk melihat suasana kasepuhan, bangunan tradisional, halaman tempat berkumpul dan lanskap di sekitarnya. 

Kunjungan ke Gelaralam juga membuka pengalaman mengenai kehidupan masyarakat adat. 

Kajian yang menjadi bagian dari bahan perjalanan mencatat pentingnya budidaya padi tradisional, kerja komunal dan penyimpanan padi bersama. 

Dalam tradisi kasepuhan yang turut didokumentasikan di Ciptagelar, leuit atau lumbung padi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tempat penyimpanan karena berkaitan erat dengan kehidupan dan penghormatan terhadap padi. 

Pada Sabtu itu, banyaknya tamu di Imah Gede disebut berkaitan dengan persiapan Seren Taun yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya. MRC tidak mengikuti upacara tersebut karena harus meneruskan perjalanan sesuai jadwal. 

Bagi peserta, kunjungan ke masyarakat adat juga menuntut cara berkunjung yang berbeda. Wisatawan tidak hanya datang untuk mencari latar foto.

Tetapi perlu memahami bahwa masyarakat adat merupakan tuan rumah dengan tata kehidupan sendiri. Meminta izin sebelum memotret, menghormati ruang yang dibatasi dan mengikuti arahan warga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas perjumpaan. 

Pada Sabtu sore, MRC kemudian berpamitan dan bergerak kembali menuju Pelabuhan Ratu melalui Cipta Mulya dan Sinaresmi. 




Setelah melewati etape pegunungan, rombongan menjadikan Bunga Ayu Seaside Resort di Pelabuhan Ratu sebagai tempat beristirahat sekaligus ruang berkumpul. 

Menurut Jihan, kedatangan mereka disambut manajer resort yang akrab disapa Opunk. MRC memesan dua vila dan tiga kamar untuk kebutuhan rombongan. 

Bunga Ayu Seaside Resort tercatat beralamat di Jalan Kidang Kencana Nomor 43, Pelabuhan Ratu, dengan restoran dan area parkir sebagai fasilitas yang relevan bagi tamu kelompok yang datang menggunakan kendaraan. 

Malam kedua menjadi waktu bagi peserta untuk berhenti dari aktivitas perjalanan. Mereka menikmati kambing guling, ikan blue marlin dan cumi berukuran jumbo sebagaimana diceritakan Jihan. 

Makan malam kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita, acara bebas dan karaoke. Minggu pagi, 20 September 2026, peserta sarapan di restoran Bunga Ayu sebelum turun ke pantai melalui akses dari resort. 

Setelah sebelumnya melewati jalan kampung dan kawasan pegunungan, suasana pesisir selatan yang menghadap Samudra Hindia menjadi penutup perjalanan mereka. 

Rangkaian perjalanan itu juga menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas touring dengan peluang ekonomi masyarakat. 

Makan di perjalanan, membeli buah setempat, bermalam, menggunakan layanan akomodasi, hingga kebutuhan konsumsi rombongan merupakan transaksi yang dapat mengalir kepada pelaku usaha di daerah yang dikunjungi. 

Warung makan, penjual buah, penginapan warga, penyedia konsumsi, pemandu lokal dan pelaku kerajinan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. 

Meski tidak seluruhnya digunakan MRC dalam perjalanan kali ini, rangkaian rute mereka memperlihatkan ruang yang dapat dikembangkan lebih jauh. 

Agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, pilihan belanja wisata juga dapat dilakukan secara sengaja, antara lain dengan membeli produk lokal, membayar layanan secara wajar dan memesan kebutuhan kelompok lebih awal dan mencantumkan informasi usaha dengan benar ketika pengalaman perjalanan dibagikan. 

Promosi wisata, dalam konteks ini, tidak hanya menampilkan tempat sebagai latar, tetapi juga memberi ruang kepada warga sebagai pelaku. Destinasi budaya perlu diperkenalkan bersama tata krama berkunjung, tempat makan dengan kisah dan produknya, serta penginapan berdasarkan pengalaman yang benar-benar diperoleh tamu. 

Sebelum pulang, rombongan mengabadikan kebersamaan di depan resort. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui rute Pelabuhan Ratu–Cikidang–Parungkuda–Caringin–Bogor sebelum peserta berpisah menuju tempat tinggal masing-masing. 

Dalam tiga hari, MRC merangkai pengalaman yang beragam, mulai dari menyeberangi sungai dengan rakit bambu, melewati jembatan gantung, berhenti untuk makan dan beribadah, menikmati durian, mencapai kasepuhan pada dini hari, hingga kembali berkumpul di tepi laut. 



Kisah perjalanan tersebut tidak lepas dari sejarah komunitas yang dibangun Jihan bersama sang istri, Ericha Putri, sejak 2015. Puncak, Cariu dan Sukabumi menjadi bagian dari tujuan awal mereka berkendara. 

Wira Fernandez, sepupu terdekat Jihan, kemudian ikut dalam perjalanan dan kini menjadi Koordinator Tim Peralatan dan Dokumentasi MRC. Dari kebersamaan tiga orang, komunitas berkembang menjadi sekitar 40 anggota berdasarkan catatan Jihan pada September 2026. 

Seiring berkembangnya komunitas, tujuan perjalanan MRC juga semakin beragam, mulai dari Bogor Barat, Cianten, Nirmala, Cikaniki dan Citalahab yakni pesisir Banten seperti Carita, Tanjung Lesung dan Sawarna Pelabuhan Ratu, Ciletuh, Ujung Genteng dan kawasan kasepuhan di Sukabumi. 

"Hingga Cianjur, Bandung, Ciwidey, Rancabali dan Pangandaran. Bagi MRC, perjalanan tidak berhenti ketika motor tiba di tujuan karena pengalaman justru berlanjut melalui perjumpaan dengan orang, kuliner, tempat tinggal, lingkungan alam dan kehidupan masyarakat setempat. 

Dalam bahan perjalanan tersebut, Jihan menyertakan refleksi bahwa salah satu cara menguji karakter seorang sahabat adalah dengan mengajaknya menempuh perjalanan jauh dan penuh rintangan. 

Refleksi lainnya menyebut perjalanan yang jauh dan medan yang sukar sebagai cermin untuk melihat kepribadian serta ketulusan seorang teman. 

Karena itu, meski nama acaranya No One Knows, rangkaian tiga hari tersebut akhirnya meninggalkan sesuatu yang jelas bagi MRC yaitu tempat-tempat yang layak dikenang dan persaudaraan yang ingin terus dijaga. 

Ois

BACA JUGA BERITA LAINNYA