Ayep Zaki Tekankan Validasi Data Kunci Percepatan Penanganan Stunting
SUKABUMI-Beritaekspos.com - Wali Kota Sukabumi H. Ayep Zaki menekankan pentingnya validasi dan pemutakhiran data sebagai langkah awal mempercepat penanganan stunting di Kota Sukabumi.
Menurutnya, kebijakan dan intervensi pemerintah harus berangkat dari data yang benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Ayep Zaki seusai membuka Kegiatan Penguatan Posyandu Istimewa di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Lembursitu, Rabu (26/8/2026).
Ayep meminta seluruh lurah bersama jajaran terkait tidak hanya mengandalkan data yang sudah tercatat, tetapi melakukan pengecekan langsung untuk memastikan kondisi sebenarnya di wilayah masing-masing.
“Data stunting harus di-update. Kalau kenyataannya tidak ada, segera datanya dimasukkan ke Puskesmas setempat dan langsung ke Dinas Kesehatan. Jangan menunggu-nunggu, minggu ini kerjakan,” tegas Ayep.
Ia mencontohkan data stunting di Kelurahan Sindangsari yang tercatat sebanyak 19 kasus. Data tersebut, kata Ayep, harus diverifikasi agar pemerintah memiliki gambaran yang akurat sebelum menentukan langkah penanganan.
“Ini penting. Untuk penurunan stunting harus disisir semua oleh Pak Lurah,” ujarnya.
Bagi Ayep, ketepatan data memiliki peran strategis dalam menentukan sasaran intervensi. Dengan data yang valid, pemerintah dapat memastikan program kesehatan, pemenuhan gizi maupun dukungan lainnya diberikan kepada masyarakat yang memang membutuhkan.
Keseriusan Pemkot Sukabumi dalam menangani stunting juga ditunjukkan melalui peningkatan dukungan anggaran. Ayep menyebut anggaran penanganan stunting yang sebelumnya sekitar Rp2,88 miliar meningkat menjadi sekitar Rp4,39 miliar pada 2026.
Anggaran tersebut di antaranya diperuntukkan mendukung Posyandu dalam menjalankan berbagai program pencegahan dan penanganan stunting di tingkat masyarakat.
Tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, kepedulian terhadap pemenuhan gizi anak juga melibatkan aparatur sipil negara (ASN). Ayep menyebut kontribusi tersebut setara dengan sekitar 2.800 butir telur setiap bulan.
Ia menegaskan penanganan stunting harus dilakukan sejak usia dini melalui langkah pencegahan dan intervensi yang berkelanjutan. Pemerintah tidak boleh menunggu hingga persoalan pertumbuhan anak menjadi lebih serius.
“Penyelesaian stunting ini penting sekali karena menyangkut masa depan anak-anak kita. Jangan sampai bermasalah di kemudian hari. Sejak usia dini harus diselesaikan. Itu tugas Pemerintah Kota,” kata Ayep.
Menurutnya, persoalan stunting juga berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, Pemkot Sukabumi tidak hanya fokus pada stunting, tetapi juga menargetkan penyelesaian kemiskinan ekstrem, persoalan penyandang disabilitas, keluarga tidak mampu hingga pengangguran.
“Stunting, kemiskinan ekstrem, difabel, keluarga yang tidak mampu, kemudian pengangguran, ini harus selesai. Itu penyakit yang harus diselesaikan,” tegasnya.
Dalam upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif, Ayep juga mendorong dunia usaha memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.
“Difabel harus dijadikan sebagai warga biasa. Dia bisa bekerja dan lain sebagainya. Seluruh perusahaan Sukabumi yang punya karyawan di atas 50, itu wajib satu atau dua orang difabel bekerja,” ungkapnya.
Ayep optimistis berbagai persoalan tersebut dapat ditangani apabila seluruh unsur bergerak bersama. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dinilai memiliki peran penting dalam memastikan program pembangunan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
“Kita buktikanlah, Sukabumi bisa. Mudah-mudahan Sukabumi menjadi contoh untuk Indonesia,” pungkas Ayep.
Ois


