Lima Tahun Beroperasi, Pengelola Sebut Kondisi Pasar Pelita Sukabumi Kian Memburuk Akibat PKL dan Minimnya Penertiban
KOTA SUKABUMI-Beritaekspos.com - Memasuki tahun kelima sejak beroperasi, kondisi Pasar Pelita Sukabumi dinilai semakin memprihatinkan. Pengelola pasar mengungkapkan jumlah pedagang aktif terus menurun akibat sulitnya akses bagi pembeli, maraknya pedagang kaki lima (PKL) di sekitar kawasan pasar, serta belum adanya solusi konkret dari pemerintah terhadap persoalan tersebut.
Pengelola Pasar Pelita Sonya Yuliana menyebut kondisi pasar saat ini jauh dari harapan. Menurutnya, banyak pedagang memilih kembali berjualan di luar gedung karena aktivitas perdagangan di dalam pasar semakin sepi.
"Kalau melihat kondisinya sekarang, memang memburuk. Pedagang berkurang, banyak yang kembali berjualan di luar. Pembeli juga kesulitan masuk karena kawasan sekitar kembali dipenuhi PKL," ujarnya, Kamis (16/7).
Lebih jauh dia menjelaskan, upaya penertiban PKL yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya belum memberikan dampak signifikan.
Penertiban yang dilakukan secara bertahap dinilai justru memunculkan persoalan baru karena tidak disertai pengawasan yang berkelanjutan.
"Ketika satu kawasan ditertibkan, kawasan lain belum. Akhirnya muncul kecemburuan dan pedagang kembali lagi ke jalan. Tidak ada pengawasan setelah penertiban sehingga kondisinya seperti kucing-kucingan," katanya.
Selain itu, keberadaan sejumlah lokasi perdagangan baru di sekitar Pasar Pelita juga disebut turut memengaruhi aktivitas jual beli di dalam gedung pasar.
Menurutnya, sebagian pedagang yang sebelumnya berada di kawasan sekitar kini justru menempati lokasi tersebut sehingga semakin mengurangi potensi pengunjung masuk ke Pasar Pelita.
Pengelola mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada Pemerintah Kota Sukabumi, baik melalui komunikasi langsung maupun surat keberatan. Namun hingga kini belum ada langkah penyelesaian yang dirasakan mampu memperbaiki kondisi pasar.
"Kami sudah sering berkomunikasi dan pernah menyampaikan surat keberatan. Tapi sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan," ungkapnya.
Di sisi lain, pengelola memastikan tetap menjalankan kewajibannya dalam mengelola pasar, termasuk menyediakan berbagai fasilitas bagi para pedagang.
Fasilitas tersebut antara lain listrik, air bersih, pengamanan dan CCTV selama 24 jam, petugas kebersihan, musala, hingga toilet di setiap lantai.
Menurutnya, berjualan di dalam pasar memberikan kepastian hukum bagi pedagang karena memiliki kios atau los yang resmi, terlindung dari cuaca, serta tidak khawatir terhadap penertiban.
Data pengelola menunjukkan jumlah pedagang aktif kini tinggal sekitar 613 orang, turun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 700 pedagang.
Penurunan jumlah pedagang tersebut juga mulai berdampak terhadap kondisi keuangan pengelola. Meski demikian, pihaknya menegaskan hingga saat ini masih memilih mengedepankan komunikasi secara persuasif dengan pemerintah dan belum mempertimbangkan langkah hukum.
"Kondisi keuangan tentu ikut terdampak. Namun sejauh ini kami masih mengutamakan komunikasi dan mencari solusi bersama, belum terpikir mengambil langkah hukum," pungkasnya.
Ois

