Breaking News

Perekonomian Nasional Sedang Tidak Baik-baik Saja, di Tandai Dengan Penurunan Daya Beli Masyarakat


Catatan: Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn 

SUKABUMI, beritaekspos .com. -Ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, dengan banyak ekonom menilai kondisinya "tidak baik-baik saja". Hal ini ditandai dengan penurunan daya beli masyarakat, lesunya aktivitas manufaktur (PMI), lonjakan PHK, melemahnya rupiah, serta penurunan jumlah kelas menengah yang signifikan.

Penurunan ini tentu merupakan alarm bagi perekonomian Indonesia. Situasi ini menuntut kehati-hatian, terutama bagi masyarakat dalam mengelola keuangan dan pelaku usaha yang menghadapi tekanan permintaan.

Masalah ekonomi Indonesia hari ini bukan semata soal defisit yang membesar. Masalah utamanya adalah arah pertumbuhan sedang dikejar dengan fondasi fiskal yang makin rapuh. Rakyat tidak menikmati kesejahteraan sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

Pemerintah tampak ingin bergerak cepat, tetapi mesin kebijakannya belum menunjukkan bahwa percepatan itu ditopang oleh kualitas belanja yang cukup baik, oleh disiplin fiskal yang cukup kuat, dan oleh transparansi kebijakan yang cukup meyakinkan.

Usia kemerdekaan Indonesia telah menjalani 80 tahun lebih merdeka tetapi masih terlihat jelas capaian stbilitas ekonomi masih belum merata jika dilihat secara fakta bukan data di atas kertas, tidak kita pungkiri juga tentang pembangunan infrastruktur yang masif tetapi dilaksanakan dengan padat hutang dan investasi asing, ada juga penurunan ekstrem kemiskinan hingga 0.8 persen pada Maret 2025. 

Namun kemiskinan masih sangat banyak dikarenakan ketimpangan pendapatan, akibat rendahnya kualitas pendidikan, kurangnya lapangan kerja yang layak untuk rakyat, dan korupsi hampir di semua tatanan menghambat kesejahteraan rakyat Indonesia.

Indonesia dilahirkan oleh nenek moyang pendiri Bangsa ini sebenarnya memiliki kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia cerdas. Sebagai bangsa yang besar harusnya tidak mengalami keadaan yang seperti saat ini, ketimpangan sosial, ketimpangan pendidikan, dan banyak ketimpangan lain yang dialami bangsa ini.

Jika diteliti dari penghasilan pajak misalnya tambang, yang sangat besar tarif pajaknya dari PNBP hingga pajak penghasilan badan hingga 22%, ditambah pajak kendaraan yang sangat tinggi di seluruh wilayah Indonesia, pajak rumah makan, hiburan, dan pajak lain -lainnya yang cukup menekan rakyat.

Jika dari pajak saja sudah luar biasa besar penghasilannya ditambah lagi dari sumber SDA dan SDM lantas kenapa Indonesia masih miskin lalu kemana uang negara?

Sebagian contoh kecil, berdasarkan data terbaru per November 2025, sebanyak 52% dari total 1.060 perusahaan BUMN dan anak usahanya dilaporkan merugi. 

Sebanyak 551 BUMN dan anak perusahaan masih berjuang mengatasi kerugian, yang berkontribusi pada hilangnya potensi pendapatan negara hingga Rp50 triliun per tahun. Ditambah lagi korupsi dan penggunaan uang negara yang kurang tepat sasaran seperti dana MBG yang mencapai 300 triliyun lebih hanya untuk makan yang belum tentu mensuport gizi sesuai program pemerintah dan masih banyak lagi program yang tidak tepat sasaran yang tak menyentuh kehidupan rakyat.

Berbanding terbalik dengan beberapa negara miskin seperti, Etiopia, Mauritius negara miskin yang dapat bangkit dengan cepat menjadi negara makmur, juga ada Burkina Paso yang dipimpin oleh tokoh muda berpangkat kapten.

Etiopia dan Mauritius adalah contoh negara Afrika yang berhasil bertransformasi dari kondisi sangat miskin menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat dan lebih makmur. 

Negara Etiopia bangkit melalui revolusi pertanian dan teknologi, sementara Mauritius bertransformasi dari negara pertanian miskin menjadi pusat pariwisata dan keuangan yang makmur.

Ibrahim Traoré memimpin Burkina Faso sebagai Presiden Transisi sejak 30 September 2022, setelah memimpin kudeta militer. Hingga awal 2026, ia telah berkuasa selama lebih dari 3 tahun. Sebagai pemimpin militer, ia menggulingkan Paul-Henri Sandaogo Damiba dan menjabat sebagai kepala negara termuda di dunia. 

Jika Indonesia hari ini dibawah kepemimpin Presiden Prabowo tidak dapat bicara tegas baik di publik dan kebenaran fakta, serta tidak dapat menerima kritik, dalam menjalankan roda pemerintahan dan menentukan para pembantunya yang dapat bekerja baik untuk rakyat, baik dalam perkataan dan baik dalam profesional kerja maka kita akan terus mengalami kemiskinan yang berlarut tanpa ada perubahan sesuai dengan visi misi para nenek moyang pendiri Indonesia menjadi negara maju dan makmur yang di segani Dunia Internasional.

Sumber:Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn

Endang. 


BACA JUGA BERITA LAINNYA