Breaking News

RSUD Jatisari Tingkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat Layani Penanganan Orthopedi




KARAWANG," Beritaekspos.com – Ketika mendengar istilah dokter orthopedi, sebagian besar masyarakat mungkin langsung membayangkan penanganan patah tulang akibat kecelakaan. 

Padahal, ruang lingkup orthopedi jauh lebih luas. Mulai dari gangguan tulang, persendian, otot, ligamen, saraf, hingga kelainan bawaan lahir menjadi bagian dari penanganan dokter spesialis ini.

Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi RSUD Jatisari, dr. Mohammad Arie Arifin, Sp.OT, menjelaskan bahwa orthopedi merupakan cabang ilmu kedokteran yang secara khusus mempelajari sistem gerak manusia.

"Orthopedi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendalami bidang pertulangan, persendian, otot, ligamen, saraf, termasuk tulang rawan yang terdapat pada persendian," ujarnya pada mediaseruni, Kamis, (16/7/2026).

Menurutnya, anggapan masyarakat mengenai pengapuran sendi juga kerap disalahartikan. Pengapuran sebenarnya merupakan proses menipisnya tulang rawan atau bantalan sendi yang berfungsi mengurangi gesekan antar tulang.

"Jadi yang disebut pengapuran itu sebenarnya penipisan tulang rawan atau bantalan persendian. Itu termasuk bidang yang kami tangani," katanya.

Kasus Orthopedi Paling Sering Ditemui

dr. Arie menyebut, kasus orthopedi yang paling banyak dijumpai di Indonesia adalah trauma akibat kecelakaan, baik kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja.

Selain itu, terdapat sejumlah penyakit lain yang juga menjadi perhatian dokter orthopedi, di antaranya:

Trauma atau patah tulang akibat kecelakaan.

Kelainan bawaan lahir seperti kaki bengkok (clubfoot), dislokasi sejak lahir, dan skoliosis.

Penyakit degeneratif seperti pengapuran sendi.Tumor atau benjolan pada tulang dan jaringan lunak.

Cedera olahraga.

"Kasus trauma masih menjadi yang paling banyak. Di Karawang sendiri, kami juga cukup sering menangani kecelakaan kerja karena banyak pasien merupakan pekerja pabrik," ungkapnya.

Ia menambahkan, pekerja pabrik kerap datang dengan kondisi patah tulang, anggota tubuh terjepit mesin, maupun cedera berat yang membutuhkan tindakan cepat.

Pengapuran Sendi Banyak Menyerang Lansia,selain trauma, kasus yang paling sering ditemui di poliklinik orthopedi adalah penyakit degeneratif, terutama pada lansia dan perempuan yang telah memasuki masa menopause.

"Yang paling sering adalah pengapuran sendi lutut. Bahkan kasusnya bisa mencapai sekitar 80 persen dari keluhan degeneratif," jelasnya.

Selain lutut, pengapuran juga dapat terjadi pada tulang belakang yang memicu saraf terjepit (Low Back Pain/LBP), bahu (frozen shoulder), hingga pergelangan kaki.

Cedera Olahraga Meningkat Seiring Tren Olahraga

Meningkatnya tren olahraga seperti futsal, lari, tenis hingga padel juga berdampak pada meningkatnya jumlah pasien cedera olahraga.

"Olahraga sekarang semakin digemari. Padel dan tenis misalnya, cukup berisiko menyebabkan cedera pada persendian maupun pergelangan tangan," tuturnya.

Pada kelompok usia muda, cedera olahraga, terkilir, jatuh hingga patah tulang menjadi kasus yang paling sering ditangani.

Jangan Salah Penanganan Saat Patah Tulang

dr. Arie mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penanganan sembarangan ketika mengalami patah tulang.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk menjalani pemeriksaan, termasuk foto rontgen.

"Kalau ada dugaan patah tulang, jangan salah tujuan. Datang dulu ke rumah sakit terdekat, lakukan pemeriksaan dan rontgen. Setelah itu baru dirujuk ke dokter orthopedi bila memang diperlukan," katanya.

Ia menegaskan, penanganan patah tulang sangat bergantung pada kecepatan.

"Orthopedi selalu berpacu dengan waktu. Semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya. Kalau salah penanganan, hasil akhirnya bisa tidak maksimal," tegasnya.

Terkilir Jangan Langsung Dipijat

Salah satu kebiasaan masyarakat yang masih sering ditemui adalah langsung memijat bagian tubuh yang terkilir atau membengkak.

Padahal, menurut dr. Arie, tubuh manusia memiliki mekanisme penyembuhan alami.

"Kalau hanya benturan atau terkilir tanpa patah tulang, tubuh sebenarnya mampu menyembuhkan sendiri dalam waktu sekitar lima sampai tujuh hari. Sebisa mungkin jangan langsung dipijat," ujarnya.

Ia menjelaskan, rasa nyeri yang berkurang setelah dipijat bukan berarti cederanya sembuh.

"Banyak yang merasa lebih enak setelah dipijat, tetapi bengkaknya tetap ada. Hampir 90 persen kasus seperti itu. Tubuh sebenarnya sudah memiliki mekanisme penyembuhan sendiri," katanya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat tidak memanipulasi atau mengutak-atik bagian tubuh yang cedera karena justru berpotensi memperparah kondisi.

Kelainan Tulang Lebih Baik Ditangani Sejak Dini

Penanganan dini juga menjadi kunci pada kasus kelainan bawaan seperti kaki bengkok (clubfoot).

dr. Arie mengatakan, semakin cepat kelainan tersebut diketahui dan ditangani, semakin besar peluang mendapatkan hasil yang optimal.

"Kasus yang terdeteksi sejak bayi tentu hasilnya akan jauh berbeda dibanding yang baru ditangani saat usia 10 atau 11 tahun. Kami selalu menjelaskan kondisi ini kepada pasien dan keluarganya agar memahami peluang keberhasilan terapinya," jelasnya.

RSUD Jatisari Siap Menjadi Trauma Center

Saat ini RSUD Jatisari telah menjadi rumah sakit rujukan bagi wilayah Jatisari dan sekitarnya, khususnya dalam penanganan kasus trauma.

Meski masih terdapat keterbatasan alat untuk beberapa tindakan operasi orthopedi, dr. Arie memastikan pelayanan kepada pasien tetap menjadi prioritas.

"Selama masih bisa ditangani di RSUD Jatisari, kami akan semaksimal mungkin mengobatinya di sini. Kalau memang membutuhkan tindakan yang belum dapat dilakukan, kami akan jelaskan kepada pasien dan merujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap," ujarnya.

Ia juga menilai sistem triase di Instalasi Gawat Darurat (UGD) RSUD Jatisari sudah berjalan baik, meski kapasitas pelayanan masih terus ditingkatkan.

Selama praktik di RSUD Jatisari setiap Senin, Selasa, dan Rabu pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, dr. Arie mengaku pernah menangani berbagai kasus berat, mulai dari patah tulang kompleks, kecelakaan kerja, hingga luka tembak dan luka bacok yang menyebabkan tulang serta tendon terbuka.

"Selama masih bisa kami tangani di sini, kami akan memberikan pelayanan semaksimal mungkin untuk pasien," pungkasnya.(Red)

BACA JUGA BERITA LAINNYA