Breaking News

Diplomasi Global Ala Sukabumi, Ayep Zaki Bidik Kerjasama Pendidikan dan Kesehatan


SUKABUMI-Beritaekspos.com - Langkah H. Ayep Zaki membawa Kota Sukabumi ke panggung internasional melalui kunjungan 14 duta besar menuai dua sisi sekaligus yaitu optimisme atas peluang kerja sama global, dan pertanyaan soal transparansi anggaran.

Agenda yang telah dirancang sejak enam bulan lalu itu akhirnya digelar pada 21 April 2026, setelah sempat dijadwalkan pada 1 April. 

Dalam kegiatan tersebut, selain para duta besar negara sahabat, turut hadir tiga duta besar Indonesia yang bertugas di luar negeri.

Ayep menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pintu masuk ke jejaring diplomatik yang lebih luas. Ia bahkan menyebut dirinya kini telah menjadi bagian dari “diplomatic club” yang memungkinkan komunikasi langsung lintas negara.

“Saya berharap keuntungan konkret bisa dirasakan, terutama kerja sama di bidang pendidikan dan kesehatan,” ujarnya, Selasa malam (21/4). 

Salah satu rencana yang disiapkan adalah pengiriman guru dari tingkat SD hingga SMA ke luar negeri untuk mempelajari metodologi pembelajaran. Hasilnya diharapkan bisa diadaptasi di Sukabumi guna meningkatkan kualitas pendidikan.

Di sektor kesehatan, para tamu diajak mengunjungi RSUD R. Syamsudin S.H., termasuk peresmian fasilitas stem cell. Ayep mengklaim fasilitas tersebut merupakan bagian dari jaringan terbatas di dunia dan menjadi simbol kemajuan layanan kesehatan daerah.

Ia bahkan menyebut Indonesia mulai bisa sejajar dengan negara maju seperti Jerman dan Jepang dalam aspek tertentu layanan medis.

Tak hanya itu, peluang kerja sama ekonomi juga disebut terbuka, termasuk rencana ekspor-impor kopi ke Georgia dan Armenia.

Namun di balik berbagai klaim tersebut, muncul pertanyaan soal efektivitas dan pembiayaan kegiatan. Ayep tidak merinci sumber maupun besaran anggaran yang digunakan untuk agenda internasional tersebut.

“Saya akan pertanggungjawabkan semuanya. Dampak yang didapat akan jauh lebih besar,” tegasnya.

Pernyataan itu membuka ruang evaluasi publik. Di satu sisi, langkah diplomasi daerah dinilai progresif dan berpotensi membuka akses global. 

Namun di sisi lain, transparansi anggaran dan ukuran keberhasilan konkret seperti realisasi kerja sama, peningkatan PAD, hingga manfaat langsung bagi masyarakat menjadi hal yang tak bisa diabaikan.

Dengan ambisi besar yang dibawa, publik kini menunggu apakah diplomasi ini akan berujung pada terobosan nyata, atau sekadar gemerlap seremoni tanpa dampak jangka panjang. 

Ois

BACA JUGA BERITA LAINNYA