Breaking News

Kepala UPT Pertanian Banyuresmi Garut, Himbau Kelompok Tani Untuk Bersinergi




GARUT, beritaekspos.com - 
Peran kelompok tani yang berada di wilayah Kecamatan Banyuresmi, untuk bisa bersinergi dengan keberadaan para petani diwilayah masing-masing, dimana peran ketua kelompok tani bertugas untuk mendata berbagai keluhan para petani yang terjadi terhadap anggotanya, ungkap Kepala UPT Pertanian Banyuresmi Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Selasa, 27 Juli 2021. Pukul 14.00 Wib.

"Adapun pegawai UPT Pertanian Kecamatan Banyuresmi dari kiri ke kanan
Gugun Gunawan, SP, Hayani, SP, Endra Haryawan, STP,
Nur Indah Wulansari, SP, Asti Herman R, SP, Hari Hardiansyah, SP"

Kepala UPT Pertanian Banyuresmi Endra Haryawan, S.T.P Menyampaikan, "Untuk diketahui bersama, yang harus diperhatikan oleh Kelompok tani dan para petani sebelum masa tanam antara lain; proses pembibitan dengan bibit unggul (bibit yang sudah terpilih, dan sudah beradaptasi dengan lingkungan sawah), proses pengairan, unsur pengelolaan tanah, keberadaan hama, proses waktu penanaman dan pemupukan, itu harus jadi perhatian bersama. Ucapnya

Selanjutnya mengenai terkait adanya informasi keluhan gagal tanam padi (mati) atau daun langsung berwarna merah, setelah adanya pemupukan dari pupuk bersubsidi itu tidak benar, sebaiknya mesti ada penelitian khusus terkait hal itu. Ujarnya

Menurutnya pihak UPT Pertanian bidang penaggulangan hama, ketika mendapatkan informasi, pihaknya telah melaksanakan survei ke lokasi tersebut di Desa Bagendit dan Desa Banyuresmi untuk memastikan kejadian itu. Ujarnya

Sementara dari hasil survei lapangan, bibit tanam padi yang mati atau berwarna merah setelah ditanam bukan hanya yang telah dipupuk saja, tetapi ada juga yang tidak dipupuk ikut mati, ini akan menjadi kajian tersendiri bagi pihak UPT Pertanian, Imbuhnya

Untuk sementara dari hasil survei yang dilakukan bersama para petani menyapaikan mungkin karena faktor sumber pengairan dari air Situ Bagendit, yang pada waktu itu sedang ada pengecoran, mungkin ada jat kimia pengeras coran yang mencemari air Situ Bagendit sehingga menimbulkan kematian pada tanaman padi yang baru tumbuh. Ujarnya


"Walaupun demikian ini perlu ada penelitian khusus, yang harus dilakukan oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk kedepannya agar tidak terjadi kembali hal yang sama saat menanam padi saat ini"

Maka dari itu kedepan bila terjadi kembali hal yang sama, untuk para ketua kelompok tani untuk dapat berserinegi dengan kami, dan sama-sama ikut mencari latarbelakang kejadiannya, untuk menghindiri kejadian hal yang sama sehingga agar tidak merugikan petani. Pungkasnya

(Beni)

|| BACA JUGA BERITA LAINNYA ||